Senin, 15 Agustus 2011

Pena cintaku


Tak ku paksakan, bagaimana mauku
Tuk menulis tentang apa saja yang ingin ku tulis
Semuanya tanpa terencana dan terfikir sebelumnya
Ku sebut ini anugrah atau sebuah kebetulan
Tiap kali ku rasa jenuh dan diam
Ingin ku tulis semua hal yang ada terasa
Tentang hati,hidup,sobat dan alam
Seringnya ku tulis tentang dia
Mahluk Tuhan terindah dimata ku
Bisa dikatakan cinta atau duka
Tergantung dari cerita sebelumnya
Tulisanku buruk jauh dari sempurna
Namun ini yang ku bisa
Sebagai penghibur lara
Cukup menenangkan dari apa yang membingungkan
Kadang ku ingin kau tau
Ku senang menulis tentang dirimu
Menulisku sambil tersenyum
Tersadar mengapa dan kenapa aku begini
Tiap kali ku menulis, tersenyum menangis pun ada
Sekali lagi, ini hanya tulisan
Namun gambaran dari cermin hidupku
Aneh atau tidak
Tergantung dari sisi mana kau melihat
Baik dan buruk
Itulah akau, Orang yang berteman pena.

Amd



Setelah ini kemana kita
Menunggu mati, atau. . . .
Mengikhlaskan umur kita kita rapuh dimakan waktu
Apa tujuan Kita
Kemana akan kita bawa, lembar ijazah
Bahagia masa muda
Menangis masa tua, atau . . .
Mati tanpa bekal
Siapa kita . .  .
Insan yang berakal, atau…
Manusia yang selalu menyalahkan waktu
Kawan……
Air mata yang jatuh hanya berbuah simpati
Air keringat yang jatuh, menghasilkan perubahan bagimu
Suatu perubahan yang membawamu ke arah lebih baik
Kawan .. . . .
Sampai kapan kita akan menikmati harta orang tua
Sampai kapan harta orang tua kita sombongkan
Kawan . . .  .
Kita bukan anjing yang selalu diberi oleh tuannya
Kita berakal, berilmu saatnya kita melangkah, rubah dunia
Masa depan bukan orang lain yang menentukan
Tapi diri kita sendiri
Kawan . . .
Berdiri dan mandirilah . . .
Karena semangat kamus wajib hidup


Selasa, 02 Agustus 2011

sisa

Kepergian yang menggantung, akibat dari hati yang terpasung
Diam selama ini, penyesalan yang tersisa
Hanya tanda tanya dan kata mengapa yang selalu ada
Menghiasi sekitar taman hati dan lorong gelap hati
Siapa yang harus ku tanya
Dari sikap acuh bahkan tak mau tau
Kearifan yang tersirat, butakan mata dari indahnya cinta
Setiap ku pandang dinding kamar itu
Rasanya ingin ku masuk dan mengetuk hati sang pemilik
Sempat sumpah dan kutuk lintasi bibir
Namun tersadar semuanya telah pergi dan bukan miliku lagi